Ini Tiga Lapis Sistem Pengawasan Obat dan Makanan

0
261
Ilustrasi : https://pixabay.com/

Direktur Pengawasan Distribusi dan Pelayanan Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor BPOM, Hardaningsih menuturkan bahwa dalam melaksanakan sistem pengawasan obat dan makanan terdapat tiga lapis pihak yakni pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

“Itu ada 3 lapis dari pemerintah, pelaku usaha, ada masyarakat,” ujar Hardaningsih dalam acara “Sosialisasi Peraturan Kepala BPOM No. 25 Tahun 2017” di Aula Gedung C Badan POM, Jl Percetakan Negara No. 23. Jakarta Pusat, Kamis (31/5).

Menurut Herdaningsih, di antara tiga lapis ini di dalam pengawasan obat yang paling besar tanggung jawabnya sebenarnya adalah pelaku usaha. Sebab, pelaku usaha berfungsi sebagai penyedia obat dan makanan yang bermutu. “Mereka yang meng-create, mereka yang melakukan bisnis, maka dari itu merekalah yang bertanggung jawab,” tuturnya.

Meski begitu, baik pemerintah maupun masyarakat juga peran tanggungjawab yang cukup besar juga. Dalam hal ini, pemerintah berfungsi sebagai regulatori terhadap produk, sarana, dan standard. “Jadi dia fungsi regulatori terhadap produk dan sarana prosuksi maupun sarana distribusinya. Dan pemerintah akn juga harus membuat standardisasi yang harus diikuti dan sistem regulatorinya,” jelasnya.

Kemudian, masyarakat. Hardaningsih menjelaskan masyarakat di sini sebagai perlindungan diri dan keluarga dari obat dan makanan yang berisiko. Ia menegaskan lapisan masyarakat inilah yang paling banyak. “Semua masyarakat ya, walaupun bapak ibu sekalian ini adalah bos di industry farmasi atau yang punyanya gitu. Maka bapak ibu sekalian tetap termasuk masyarakat. Yang bekerja di PBF tetap masyarakat. Dan sebenarnya masyarakat ini juga memiliki tanggungjawab yaitu adalah memintarkan diri sendiri. Masyarakat itu harus dibuat confidence, bisa memilih dan mengerti apa yang dibutuhkan,” ujarnya.

“Jadi bukan masyarakat itu hanya tahu apa yang diinginkan, bukan ya tapi kebutuhan. Karena antara keinginan dan kebutuhan itu berbeda. Apalagi di zaman sekarang. Yang namanya iklan atau promosi sangat bombastis, kadang orang-orang itu tidak butuh tetapi beli. Apalagi yang online.

Oleh karena itu, Hardaningsih mengatakan pihaknya akan melakukan diskusi lebih lanjut untuk mengakomodir hal tersebut. “Ini kan merupakan sesuatu hal yang baru makanya kami sedang melakukan diskusi mengenai itu bagaimana caranya ini bisa diakomodir seluruhnya. Masyarakat ini perlu kita lindungi yakni melakui edukasi. Jadi pelaku dunia kesehatan ini punya kewajiban untuk mengedukasi mereka,” tukasnya.

PHB

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*