Dede Mia Yusanti, Lulusan Farmasi yang Kini Menjabat Direktur Paten

Ia sempat meneruskan pendidikan S-2 di bidang hukum di Australia.

0
310
Direktur Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang Kemenkumham Dede Mia Yusanti. Sumber Foto: PHB/KlikLegal.

Pada November 2017, Sekretaris Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) melantik tiga pimpinan tinggi pratama. Salah satunya adalah Dede Mia Yusanti yang dilantik sebagai Direktur Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang pada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (DJKI Kemenkumham).

Kepada KlikLegal, Dede yang merupakan lulusan jurusan farmasi dari Universitas Indonesia (UI) mengaku telah memulai karier di DJKI Kemenkumham sejak 1991. Ia telah berkecimpung sebagai pemeriksa paten selama 15 tahun. Nah, ketika sedang menjadi pemeriksa paten, Dede memutuskan untuk meneruskan pendidikan di bidang hukum.

“Saya itu dari Farmasi UI. Saya lalu S2 di bidang hukum UTS (University of Technology of Sydney). Jadi waktu itu Saya memang sudah jadi pemeriksa, kemudian saya mau S2 kayaknya saya malas deh kalau farmasi pasti ke Lab lagi, jadi nggak mau,” ungkapnya ketika ditemui di Gedung DJKI, Jakarta, Selasa (6/2).

Berkiprah selama 15 tahun sebagai pemeriksa paten juga memberikan pengalaman tersendiri bagi Dede. Menurutnya, menjadi pemeriksa paten itu asyik dan menarik, sebab ada banyak pengetahuan yang harus dikuasai dari berbagai aspek atau bidang sehingga membuat dirinya harus rajin membaca dan terus belajar.

Setelah menempuh pendidikan S2, karier Dede semakin meningkat. Sebelum menjadi direktur paten, dirinya sempat menjabat di beberapa bidang. Mulai dari Kepala Sub Direktorat Permohonan dan Publikasi Paten, Kepala Sub Direktorat Kerja Sama Luar Negeri (Kasubdit KSLN), Kepala Sub Direktorat Administrasi dan Pelayanan Teknis Direktorat Paten, dan Direktur Kerja Sama dan Pemberdayaan Kekayaan Intelektual.

Kekayaan Intelektual di Indonesia

Dede memiliki pandangan dan keyakinan yang tinggi bagi perkembangan kekayaan intelektual di Indonesia. Menurutnya, kekayaan intelektual di Indonesia adalah suatu keniscayaan yang sampai sekarang ini tidak bisa diabaikan. Apalagi di era globalisasi dan digital, perlindungan kekayaan intelektual itu menjadi hal penting.

“Jadi setiap perundingan dagang kita dengan negara mana pun, bilateral, pasti mereka ingin ada HKI dimasukkan. Karena apa? karena mereka kan kalau perdagangan bebas mereka punya produk yang dijual di sini, mereka punya investasi di sini, mereka itu maunya kan mesti dilindungi. Kalau enggak itu kan kompetisi nggak bisa berjalan Perdagangan itu, juga enggak bisa ada perlindungan KI, (mereka,-red) tanya kenapa tidak sesuai dengan standar,” ungkap Dede.

Lebih lanjut, menurutnya, yang menjadi kendala buat Indonesia adalah kekayaan intelektual itu belum bisa menjadi prioritas dalam negeri. Padahal, di negara lain seperti Korea, Jepang, China, Singapura itu sudah menjadikan kekayaan intelektual sebagai sumber pembangunan ekonomi.

“Itu yang menarik karena mereka sadar di masa sekarang, KI itu tidak bisa diabaikan. Karena ini saja masih dijadikan nomor berapa dan kayaknya sih koordinasi dengan kementerian terkait juga masih perlu ditingkatkan. Karena kita ini masih seolah-olah berjalan sendiri-sendiri. Ditjen KI sendiri, Kemenristek sendiri, Kementerian Koperasi & UKM masih berjalan sendiri, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan itu kan semuanya sebenarnya enggak bisa dilepaskan,” ujarnya.

Oleh karena itu, hal yang menjadi fokusnya saat ini adalah memperbaiki sistem di paten. Pertama adalah penataan dokumen karena ia melihat penataan dokumen saat ini kacau balau dan harus dirapikan.

“Harapannya tahun ini harus sudah selesai untuk penataan dokumen. Kalau pemilik paten beda yah dengan merek, yang tidak ada komunikasi. Kalau paten kan ada komunikasinya dengan pemohon, jadi enggak bisa selesai dalam waktu sekejap. Minimal dalam tahun ini sudah ada yang berkurang untuk yang deadlock-nya,” tutupnya.

(PHB)

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*