Dongkrak Kinerja Perseroan, Garuda Akan Terbitkan Mandatory Convertible Bond Rp8,5 Triliun

0
22
Dongkrak Kinerja Perseroan, Garuda Akan Terbitkan Mandatory Convertible Bond Rp8,5 Triliun

Dongkrak Kinerja Perseroan, Garuda Akan Terbitkan Mandatory Convertible Bond Rp8,5 Triliun

“Untuk menjembatani hingga pencairan dana pinjaman pemerintah itu, Garuda juga menjajaki bridging loan kepada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) senilai Rp2,3 Triliun,”.

Direktur Utama, PT Garuda Indonesia Tbk, Irfan Setiaputra mengatakan, pihaknya tengah merencanakan sejumlah aksi korporasi hingga Desember mendatang. Menurutnya, langkah tersebut diambil sebagai upaya untuk meningkatkan kembali kinerja perseroan yang terdampak pandemi Covid-19.  Irfan menuturkan, dalam waktu dekat ini, Garuda akan menerbitkan Mandatory Convertible Bond (MCB) senilai Rp8,5 Triliun untuk mencairkan dana pinjaman pemerintah dengan nilai yang sama. Selain itu kata Irfan, perseroan juga tengah mengupayakan penundaan pembayaran utang kepada BUMN yang lain, bernegosiasi dengan lessor pesawat, dan meningkatkan bisnis kargo.

“Perseroan menjaga kondisi likuiditas di tengah pandemi Covid-19 dengan berbagai strategi. Ini termasuk perpanjangan jatuh tempo sukuk global senilai US$500 Juta yang telah disetujui para pemegang sukuk, dari semula Juni 2020 menjadi Juni 2023. Selain itu, DPR pun telah menyetujui usulan dana talangan pemerintah untuk Garuda Indonesia senilai Rp8,5 Triliun. Sebagai upaya mencairkan dana pinjaman pemerintah ini, Garuda mengusulkan skema penerbitan MCB dengan nilai penerbitan yang sama,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (29/7) lalu.

Ia menjelaskan, adapun tenor MCB yang diusulkan ialah selama tiga tahun, dengan mempertimbangkan prediksi pemulihan industri penerbangan setelah pandemi Covid-19. Katanya, skema MCB ini masih didiskusikan, dikarenakan manajemen harus meminta persetujuan pemegang saham lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Lebih lanjut Irfan mengungkapkan, untuk menjembatani hingga pencairan dana pinjaman pemerintah itu, Garuda juga menjajaki bridging loan kepada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) senilai Rp2,3 Triliun.

Bridging loan diusulkan dengan support letter dari Kementerian Keuangan, yang digunakan untuk membiayai operasional Garuda sampai dana pinjaman pemerintah bisa dicairkan,” tukasnya.

Negosiasi dengan Pemegang EBA

Irfan menerangkan, adapun pekerjaan rumah  perseroan selanjutnya adalah melakukan negosiasi dengan para pemegang Efek Beragun Aset (EBA) Mandiri GIAA01 perihal sisa pembayaran EBA periode Juli 2020.

“Kontrak Investasi Kolektif (KIK) EBA Mandiri GIAA01 merupakan surat berharga hak atas pendapatan penjualan tiket penerbangan rute Jeddah dan Madinah senilai Rp2 Triliun bertenor lima tahun, yang diterbitkan pada 22 Juni 2018. Surat berharga itu terdiri atas EBA kelas A senilai Rp1,8 Triliun dan EBA kelas B Rp200 miliar. Dalam perjanjian EBA disebutkan, pembayaran pokok EBA kelas A mencapai Rp360 Miliar per tahun, dengan imbal hasil investasi tetap 9,75 persen per tahun,” bebernya.

Irfan menegaskan, perseroan tetap berkomitmen memenuhi kewajiban pembayaran di tengah tekanan likuiditas akibat pandemi Covid-19.

“Apabila mengacu pada kontrak EBA Mandiri GIAA01, sisa pembayaran EBA periode Juli 2020 tersebut dapat diselesaikan selambat- lambatnya dalam jangka waktu 90 hari,” pungkasnya.

 

SF

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*