Gedung Cyber Kebakaran, Sejumlah Layanan Digital Terganggu
Berbagai aplikasi, layanan digital, dan website tidak dapat diakses setelah kebakaran terjadi.
Pada Kamis (2/12) dilaporkan terjadi kebakaran pada Gedung Cyber 1 yang berlokasi di Jalan Kuningan Barat Raya No. 8, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Gedung Cyber diketahui memiliki peran penting bagi berbagai perusahaan. Hal ini dikarenakan gedung tersebut menjadi data center banyak perusahaan di Indonesia, dan sebagian diantaranya merupakan perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Gedung Cyber juga digunakan sebagai kantor dari beberapa perusahaan penyedia teknologi seperti web hosting, software, dan keamanan siber.
Maka dari itu, imbas dari kebakaran gedung Cyber juga dirasakan oleh berbagai perusahaan dan khususnya penyedia layanan digital.
Respon Perusahan Sekuritas dan Anggota Bursa
Berdasarkan keterangan BEI, kebakaran tidak berdampak signifikan pada seluruh perdagangan saham. Namun, memang terdapat dua broker yang terkendala dan satu broker terpaksa menghentikan perdagangan saham (self suspend).
Perusahaan yang menghentikan perdagangan saham adalah PT Indo Premier Sekuritas. Hal ini dikarenakan aplikasi investasi saham perusahaan yaitu IPOT sempat error setelah kebakaran terjadi.
“Aplikasi IPOT termasuk broker yang terkena musibah itu. Perseroan langsung mengambil langkah antisipatif, kami sedang proses untuk pindahkan koneksi ke kolokasi lain,” jelas Direktur Utama Indo Premier Sekuritas, Moleanto.
Indo Premier menegaskan bahwa insiden hanya mempengaruhi transaksi nasabah dan data nasabah tetap aman.
Gangguan serupa juga dialami perusahaan sekuritas lainnya yaitu PT Phintraco Sekuritas. Dilansir dari Bisnis.com, koneksi ke server Profits terputus pasca kebakaran terjadi. Mengatasi masalah tersebut, pihak perusahaan langsung berkoordinasi dengan pihak data center untuk menginventarisir kerusakan yang ada.
Sebagai langkah penanganan, perusahaan juga akan menggunakan server di lokasi disaster recovery center (DRC) sampai server di data center dapat diaktifkan kembali. Untuk itu, pihak perusahaan menghimbau bahwa terdapat kemungkinan penurunan performa pada aplikasi online trading karena kapasitas server di DRC tidak sebesar di data center.
Selain itu, PT Ajaib Sekuritas Indonesia juga melaporkan hal serupa. “Mohon perhatian. Data center mengalami insiden kebakaran, sementara akan terjadi gangguan dalam bertransaksi,” tulis akun twitter resmi @ajaib_investasi.
Sejumlah Layanan Digital Turut Mengalami Gangguan
Gangguan serupa juga dialami oleh perusahaan teknologi seperti Shopee yang menggunakan data center gedung Cyber 1.
Setelah terjadi kebakaran, PT Shopee International Indonesia (Shopee Indonesia) langsung mengkonfirmasi adanya gangguan pada platformnya, terutama dalam penggunaan ShopeePay. Namun, Shopee mengatakan bahwa pengguna tidak perlu khawatir karena semua data dan akun dalam kondisi aman dan transaksi yang telah dilakukan akan segera terupdate kembali.
Salah satu Bank yang turut menerima imbas adalah aplikasi Bank Neo Commerce yang tidak dapat diakses setelah kebakaran terjadi. Melalui Instagram resmi Bank Neo, pihaknya menyatakan bahwa perusahaan sedang berusaha mengembalikan layanan aplikasi agar kembali dapat diakses. Perusahaan juga memastikan bahwa data dan dana nasabah tetap aman.
Selain itu, penyedia layanan lain juga mengalami gangguan pada aplikasi dan/atau websitenya. Diantaranya mencakup M-Tix, Signal, Niagahoster, Rumahweb Indonesia, game online Ragnarok, hingga call center BPBD DKI Jakarta.
Merespon hal ini, Direktur ICT Institute Heru Sutadi mengatakan bahwa dampak kebakaran ini tidak mengherankan karena Gedung Cyber memang digunakan untuk Indonesia Internet Exchange (IIX) dan penempatan pusat data.
PNW.








































