Hal yang Perlu Diperhatikan oleh Investor Ritel dalam Aksi Korporasi Melalui Instrumen Saham

0
45
Hal yang Perlu Diperhatikan oleh Investor Ritel dalam Aksi Korporasi Melalui Instrumen Saham

Hal yang Perlu Diperhatikan oleh Investor Ritel dalam Aksi Korporasi Melalui Instrumen Saham

“Untuk private placement investor ritel tidak mempunyai pilihan dan harus ikut. Sedangkan untuk rights issue harus dilihat prospek emiten ke depan”.

Rencana menghimpun uang tunai dari pasar modal telah diumumkan oleh sejumlah perusahaan ritel. Dikutip dari situs resminya, pada semester II/2020, Bursa Efek Indonesia (BEI) sejauh ini sudah mencatat setidaknya ada sembilan rencana penerbitan saham baru, lima rencana aksi private placement, dan 21 aksi Initial Public Offering (IPO). Lantas hal apa saja yang perlu diperhatikan oleh investor ritel dalam aksi korporasinya?

Menanggapi hal tersebut, Direktur CSA Institute Aria Santoso menjelaskan, aksi korporasi tetap ditempuh di tengah pandemi Covid-19 karena emiten tidak ingin kehilangan momentum. Menurut Aria, selain itu syarat administrasi sebelum rencana aksi korporasi diambil juga telah terpenuhi.

Aria memperkirakan, rencana aksi korporasi sejumlah emiten pada semester II/2020 akan berjalan dengan baik seiring dengan pembukaan kembali kegiatan ekonomi.

“Hal ini  didukung dengan kondisi bisnis yang akan membaik pada kuartal III/2020 dan berbagai paket stimulus bakal dirasakan secara optimal pada kuartal IV/2020. Aksi korporasi bakal kian marak,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Senin (29/6) lalu.

Ia menuturkan, penghimpunan dana melalui lantai bursa baik menggunakan mekanisme IPO, rights issue, dan private placement diproyeksikan akan menjadi pilihan utama emiten. Katanya, pelepasan sebagian kepemilikan ini dipilih karena dapat menyediakan dana kas besar.

“Namun tidak meningkatkan kewajiban perusahaan ataupun menimbulkan beban bunga,” tukasnya.

Sementara itu, Senior Vice President Research PT Kanaka Hita Solvera, Janson menyatakan, dana yang diambil dari aksi korporasi ini digunakan untuk menyelesaikan sejumlah proyek jangka panjang, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap utang.

“Tiga pilihan aksi korporasi itu menjadi pilihan utama sepanjang semester II/2020 ini mengingat menjaga kas adalah keputusan pertama di tengah ketidakpastian,” pungkasnya.

Adapun Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy menyebutkan, investor ritel harus mempertimbangkan setiap aksi korporasi terhadap rencana investasi yang dilakukan melalui instrumen saham. Menurutnya, untuk private placement investor ritel tidak mempunyai pilihan dan harus ikut aksi korporasi tersebut. 

“Sedangkan untuk rights issue harus dilihat prospek emiten ke depan. Investor ritel harus melihat dari harga tebus dan prospeknya ke depan. Selama harga rights issue relatif rendah dan murah, silakan koleksi. Jika tidak murah, jangan ambil,” katanya.

Di sisi lain, Direktur Utama Investa Saran Mandiri, Hans Kwee mengatakan, untuk private placement, investor ritel tidak memiliki beban karena fokus utama adalah apakah dengan private placement harga saham naik atau turun dan penambahan modal yang dilakukan apakah membawa perbaikan kinerja atau tidak. 

“Namun, aksi private placement akan berpengaruh pada pemegang saham pengendali karena terjadi dilusi dalam porsi kepemilikan,” ujarnya

Hans menuturkan, sedangkan untuk aksi rights issue, investor ritel harus lebih waspada karena harga saham akan turun. Ia menyebutkan, hal itu dikarenakan pemegang saham pengendali menawarkan penambahan saham beredar di bawah harga pasar.

Rights issue terjadi karena mereka butuh duit, itu tidak terlalu bagus sinyalnya ke pasar. Dilihat lagi tujuan rights issue-nya, kalau membayar hutang itu tidak menambah manfaat, namun untuk membangun sesuatu (ekspansi) maka harga akan pulih lagi ke depan,” tutupnya.

Sebagai referensi, salah satu emiten yang siap menggalang dana dengan melakukan rights issue adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). MEDC merupakan perseroan yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi.

Menurut Presiden Direktur MEDC, Hilmi Panigoro, pihaknya telah mendapatkan restu dari pemegang saham untuk menerbitkan 7,5 miliar saham baru yang direncanakan akan digelar pada kuartal III/2020.

“MEDC menargetkan untuk menghimpun dana segar US$150 juta yang akan digunakan untuk modal kerja baik bagi perseroan maupun anak usaha. Kami akan tetap waspada dan mempersiapkan semua kemungkinan untuk dapat terus melanjutkan komitmen kepada pemangku kepentingan,” katanya di Jakarta, Minggu (28/6) lalu.

Kemudian, Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas, Dannif Danusaputro mengungkapkan, terdapat beberapa calon emiten dalam pipeline perseroan. 

“Kami berharap kondisi pasar dan perekonomian membaik pada semester II/2020. Sehingga satu hingga dua emiten bisa IPO pada 2020,” tuturnya.

Berikutnya, Corporate Secretary PT Panin Sekuritas Tbk, Prama Nugraha mengatakan, saat ini perseroan tengah mempersiapkan satu perusahaan untuk melantai perdana di BEI. Menurutnya, calon emiten tersebut berasal dari sektor properti.

Sementara itu, Presiden Direktur PT RHB Sekuritas Indonesia Iwanho mengungkapkan, pihaknya masih memiliki enam calon emiten dalam pipeline penawaran umum perdana saham. “Tiga perusahaan di antaranya diharapkan akan dapat berjalan pada semester II/2020,” ucapnya.

Dilansir dari situs resminya, grup usaha di bawah naungan MNC juga tercatat mencari modal dengan cara private placement. Anak usaha raja media yang melakukan penghimpunan dana adalah IPTV, MSIN dan IPTV.

Selain itu, sejumlah rencana akuisisi juga akan dirampungkan di tengah pandemi Covid-19. Teranyar, dikutip dari situs resminya, Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co. Ltd telah meneken perjanjian definitif untuk penjualan 20 persen saham PT Vale Indonesia Tbk kepada PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Mind ID.

 

SF

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*