Maria Y.P. Ardianingtyas, Lawyer yang Mendedikasikan Diri sebagai “Parent Coach” Untuk Anak Berkebutuhan Khusus

0
580
Maria Y.P. Ardianingtyas, Lawyer yang Mendedikasikan Diri sebagai “Parent Coach” Untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Indonesia belum memiliki aturan terapi prilaku, banyak kesalahan dalam penanganan anak autisme, dan banyak terapis prilaku “abal-abal” yang menjanjikan kesembuhan

Maria Y.P. Ardianingtyas, seorang lawyer lulusan Strata-2 dari Fakultas Hukum Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda yang mendedikasikan dirinya untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sejak resmi menjadi lawyer pada 2001, Maria mulai merintis karir hukumnya dengan bergabung bersama Kantor Hukum Mochtar Karuwin & Komar. Malang melintang dengan segudang pengalaman, Maria telah menangani berbagai sengketa hukum seperti corporate issues, corporate law, commercial litigation, dan termasuk juga perburuhan, akan tetapi dia lebih berfokus padau sengeketa hukum yang berhubungan dengan investasi.

Tahun 2015, profesinya sebagai lawyer di Indonesia harus terhenti lantaran ia harus mengikuti Suami yang bekerja di Milan, Italia. Namun saat melalukan psikotes untuk berangkat ke Milan, anak laki-laki semata wayangnya yang waktu itu berumur 3 tahun memiliki gejala lambat bicara, dokter memberitahukan anaknya mengidap autisme. Awalnya muncul rasa tidak percaya, seiring berjalan waktu Maria mulai berdamai dengan kenyataan.

Setelah sampai di Milan, selain aktif memberikan nasehat hukum untuk para investor asing yang ingin berinvestasi di Indonesia, Maria melakukan riset terapi untuk penyandang autisme. Dia menemukan metode yang diakui di dunia internasional yaitu metode ABA. Di Amerika metode ABA di-cover oleh asuransi di 44 negara bagian sehingga secara scientific sudah teruji. Maria mendalami ini  dan menjadi profesional di bidangnya.

“Di sana (red- Milan) saya memberikan nasehat hukum bagi investor asing yang ingin melakukan investasi di Indonesia. Saya berikan legal advice baik syarat dan hal yang perlu dipatuhi. Selain itu saya berfokus juga mencari terapi terbaik untuk anak saya sehingga anak saya dapat diberikan penanganan yang tepat. Di sekolah itu juga anak saya didampingi oleh guru yang mempunyai komptensi ABA, sehingga kami memberikan penanganan yang tepat,” katanya kepada KlikLegal di Jakarta Selatan, Rabu (05/02).

Menurut Maria, di Indonesia sendiri banyak kesalahan penanganan anak autisme termasuk juga banyak terapis perilaku “abal-abal” yang menjanjikan kesembuhan. Kesalahan persepsi itu, menurut Maria, menjadikan ada orang tua memilih cara mengkonsumi suplemen.  “Dia menganggap bahwa autis itu sakit, autis itu penyakit yang bisa disembuhkan. Katanya ngaku dokter tapi tidak ada STR, di Kouncil Kedokteran Indonesia (KKI) itu namanya nggak ada, surat izin praktek juga ngga punya, lah kok bisa ini orang bepraktek?” lanjut Maria.

Saat kembali ke Jakarta pada Juli 2018,  akhirnya Maria mengetahui alasan kenapa oknum terapis prilaku ini bisa survive. Di Indonesia memang belum ada aturan terapi perilaku, yang ada hanya ada terapi okupasi untuk bicara, yang sudah ada akademinya dibawah Kementerian Kesehatan, oknum ini memanfaatkan keadaan psikologis orang tua anak autis dan kemudian dia “menjual” janji. Apabila terapi ini tidak diterapkan dengan benar akan mengakibatkan anak progresnya turun karena ini sangat fatal akibatnya, apalagi dalam usia emas yang tidak bisa terulang.

“Penerapan ABA yang salah adalah apabila tidak diawali dengan assessment. Assessment itumisalnya gini anaknya udah bisa apa aja sih? apa sih yang kurang? Ini loh standarnya anak umur 1-1,5 tahun udah bisa begini nih, tapi kok umur 3 tahun dia belum bisa ngomong atau belum bisa minta atau nunjuk? Nah assessment ini yang dijadikan patokan memulai program,” terang Maria.

Oleh karena hal tersebut diatas, dan kuatnya desakan orang tua yang anak-anaknya juga penyandang autisme, Maria berpikir daripada memperkarakan oknum tersebut, Maria lebih memilih dengan jalan mengedukasi sebagai “parent coach” awal tahun 2019. Melalui online course dan buku-buku panduan, Maria memberikan edukasi terkait penanganan yang tepat untuk anak berkebutuhan khusus. Peserta yang ikut dari berbagai pelosok  daerah di Indonesia mulai dari Menado, Pare-pare, Kopeng, Padang, dan Pekanbaru.

Selain menjadi seorang lawyer dan “parent coach”, Maria  juga tergabung dalam Asosiasi Terapis Perilaku Indonesia (ATEPI). Maria berharap pemerintah turut andil dalam proses sertifikasi ABA yang akan dilokalkan ini, memfasilitasi, mendukung edukasi, dan menerbitkan regulasi terkait terapis perilaku di Indonesia. Agar kedepan Indonesia mempunyai SDM terapi prilaku yang berkualitas dan  adanya ketentuan pidana yang bisa menjerat oknum terapis perilaku “abal-abal”. Maria juga menyampaikan pesan kepada orang tua yang anaknya sebagai penyandang disabilitas di seluruh Indonesia.

“Orang tua anak kebutuhan khusus mohon jangan berpikir bahwa autis itu bisa sembuh karena autis itu bukan penyakit, autis itu adalah disabilitas. Suka tidak suka autis masuk kedalam disabilitas, masuk dalam UU No. 8/2016 mau level 1,2,3, ringan, sedang, berat semuanya masuk disitu, dan jangan berpikir bahwa semua bisa shortcut. Memang tidak mudah tetap semangat mencari tahu sumber informasi yang benar dan dapat dipercaya. Jangan percaya dengan janji-janji, karena khususnya untuk ilmu ABA sendiri, para praktisi yang tidak boleh menjanjikan ini dapat berhasil. Orang tua harus rajin-rajin mencari edukasi yang benar,” tutup Maria.

SF

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*