Pentingnya Kemampuan Berbahasa Asing Bagi Advokat Indonesia

0
150
Pentingnya Kemampuan Berbahasa Asing Bagi Advokat Indonesia

Pentingnya Kemampuan Berbahasa Asing Bagi Advokat Indonesia
Oleh:
Glenn Wijaya, LL.B., S.H. (Advokat dan Associate di sebuah corporate law firm di Jakarta)

Kemampuan berbahasa asing sudah mutlak dimiliki advokat-advokat Indonesia. Menurut Penulis, alasan mengapa kemampuan berbahasa asing penting adalah sebagai berikut:

  1. Menambah kemampuan advokat untuk melakukan riset perbandingan hukum negara lain

Ada kalanya, dalam melakukan kajian-kajian, baik akademis maupun praktis, advokat dituntut untuk memiliki pengetahuan akan bagaimana suatu negara lain mengatur tentang suatu hal, dan tentunya, apabila kita ingin melakukan riset tersebut, kita harus memiliki kemampuan berbahasa asing sesuai dengan bahasa negara tersebut. Tentunya, kemampuan berbahasa asing yang dimiliki tidak cukup hanya sebatas pada kosakata sehari-hari saja, namun juga harus dibarengi dengan mempelajari kosakata hukum yang sering dipakai pada peraturan perundang-undangan negara terkait.

  1. Menjalin relasi dengan klien dari negara asing

 Dalam beberapa bidang hukum, terutama yang terkait dengan perusahaan penanaman modal asing, tentunya banyak advokat Indonesia yang berhubungan dan melakukan kontak dengan pihak asing. Dalam hal ini, tentu sangatlah membantu apabila advokat Indonesia memiliki kemampuan berbahasa asing sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh kliennya tersebut.

  1. Baik untuk personal branding advokat

 Zaman sekarang, terlebih di tengah pandemic COVID-19, seorang advokat dituntut untuk banyak bekerja dari rumah, dan bahkan yang bekerja dari kantornya pun harus mematuhi protokol kesehatan, sehingga kontak fisik menjadi berkurang drastis. Kontak fisik berkurang tak hanya di lingkup kantor, namun juga berlaku bagi penyelenggaraan seminar dan pelatihan serta acara networking lainnya, sehingga advokat terbatas melakukan personal branding melalui medium lain, misalnya podcast, webinar, atau menulis di berbagai media massa atau jurnal-jurnal ilmiah. Dalam hal ini, apabila dalam melakukan berbagai aktivitas branding tersebut dibarengi dengan penggunaan bahasa asing, maka sudah jelas advokat lebih dapat mendapat perhatian dari calon-calon klien dan juga sesama advokat karena dapat berbahasa asing, terlebih apabila bahasa asing yang dikuasai merupakan bahasa asing yang masih jarang dipelajari atau dikuasai oleh advokat-advokat Indonesia.

Beberapa keuntungan berbahasa asing sudah diulas secara singkat di atas. Pertanyaan selanjutnya, apa bahasa asing yang perlu dipelajari? Jawabannya tentu akan berbeda-beda bagi tiap advokat. Namun, bagi Penulis, bahasa-bahasa asing yang penting hari ini bagi advokat Indonesia adalah bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Kanton (dialek yang dipakai antara lain di Hong Kong dan Guangzhou, Tiongkok), bahasa Korea, bahasa Jepang, bahasa Perancis, dan bahasa Belanda.

Bahasa Inggris sudah paling mutlak harus dikuasai, namun, untuk bahasa-bahasa lainnya, terutama bahasa yang dipakai di negara Asia Timur, seperti bahasa Mandarin, Korea, dan Jepang, penting bagi advokat yang memiliki atau menargetkan klien-klien dari negara-negara tersebut. Untuk bahasa Eropa, seperti Perancis dan Belanda, menurut Penulis, tidak boleh dipandang sebelah mata pula, karena sistem hukum yang dianut di Indonesia pada asalnya memang masih merujuk ke negara-negara tersebut, dan terlebih, untuk bahasa Perancis, fakta menunjukkan bahwa bahasa Perancis merupakan bahasa yang global, dan keuntungan berbahasa Perancis adalah bisa berkomunikasi dengan mayoritas penduduk di Afrika dan juga tentunya Perancis, dan sebagian Kanada. Dalam lingkup asia pun di negara-negara bekas jajahan Perancis seperti Kamboja dan Vietnam, penggunaan bahasa Perancis masih ada, meskipun tidak seluas penggunaan pada masa lampau.

Lalu, pertanyaan terakhir, di mana advokat dapat mempelajari bahasa asing, dan bagaimana mencari waktunya? Tentu saja untuk belajar bahasa asing, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan waktu yang lama untuk bisa fasih dalam suatu bahasa. Namun, menurut Penulis, cara mudah untuk belajar suatu bahasa asing adalah dengan menggunakan aplikasi-aplikasi gratis maupun berbayar yang bisa diunduh, dan/atau menempuh studi lanjutan di negara-negara asing sesuai minat sang advokat, bisa khusus belajar bahasa saja maupun sambil mengambil gelar tertentu. Untuk waktunya, Penulis menyarankan agar waktu senggang seperti waktu sebelum berangkat ke kantor, waktu makan siang, atau sebelum tidur di malam hari, dan bahkan waktu menuju ke kantor, bisa dipakai menjadi waktu-waktu untuk mempelajari bahasa asing.

Akhir kata, Penulis berharap agar di masa pandemi ini, di mana webinar-webinar lintas negara semakin lazim dilakukan, para advokat Indonesia mengambil kesempatan ini pula untuk melakukan webinar-webinar tak lagi hanya dalam bahasa Indonesia atau Inggris, tapi juga dalam bahasa-bahasa asing lain yang belum lazim, dan semakin memperkuat koneksi advokat Indonesia kepada dunia luar.

*****

 

FL

Artikel berupa opini ini ditulis oleh Glenn Wijaya, LL.B., S.H. (Advokat dan Associate di sebuah corporate law firm di Jakarta). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi KlikLegal.

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*