Sejumlah Investor Berencana Menarik Investasi Migas dari Indonesia. Ada Apa?
Salah satu penyebab mundurnya investor migas adalah kurang kompetitifnya iklim investasi minyak dan gas di Indonesia.
Beberapa investor berencana menarik investasi dari proyek minyak dan gas bumi (migas) dari Indonesia. Diantaranya adalah Royal Dutch Shell, Chevron Indonesia Company, dan ConocoPhillips Indonesia Holding Ltd (CIHL).
Royal Dutch Shell rencananya akan melepas sebesar 35 persen kepemilikan sahamnya di Lapangan Abadi, Blok Masela.
Hal ini dikarenakan permasalahan di Blok Masela proyek sempat terombang-ambing akibat tidak adanya kepastian penempatan Liquefied Natural Gas (LNG). Kondisi ini cukup menyita waktu Royal Dutch Shell. Padahal, nilai investasi mencapai 18-20 miliar USD.
Sedangkan, Chevron Indonesia Company (CICO) menyatakan akan menarik diri dari proyek gas laut dalam Indonesia Deep Water Development (IDD) di Kalimantan Timur. Alasannya adalah proyek dengan nilai investasi 5 miliar USD dirasa tidak dapat bersaing untuk mendapat modal dalam portofolio global Chevron.
Berbeda dengan dua perusahaan sebelumnya, CIHL sepenuhnya melepaskan investasi dengan menjual seluruh sahamnya kepada PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Medco menandatangani kesepakatan akuisisi atas 100 persen saham yang diterbitkan CIHL dari Philips International Investment Inc. pada Rabu, 8 Desember 2021 lalu.
Adapun sebelumnya CIHL memegang 100 persen saham di ConocoPhillips (Grissik) Ltd. CGPL yang merupakan operator dari Blok Corridor dengan kepemilikan 54 persen atas hak partisipasi. Blok Corridor tersebut memiliki dua lapangan minyak dan tujuh lapangan produksi gas di onshore Sumatera Selatan.
Hengkangnya investor migas asing ini juga terjadi pada tahun 2013-2015, yaitu oleh Hess Corporation dari Blok Semai, Marathon Oil dari Blok Pasangkayu, dan Talisman Energy dari Blok Corridor.
Dilansir dari CNBC Indonesia, Ahli Ekonomi Energi dan Perminyakan Universitas Trisakti Pri Agung Rakhmanto (9/12) menyatakan bahwa selain karena tidak ekonomis, penyebab investor migas asing meninggalkan Indonesia adalah iklim investasi Indonesia kalah kompetitif dengan portofolio dan investasi para IOCs di tempat lain.
Dampak Terhadap Produksi Migas Indonesia
Mundurnya investor-investor migas tersebut dikhawatirkan akan mempengaruhi pencapaian target produksi migas Indonesia. Sebagai informasi, pemerintah telah menetapkan target produksi migas untuk tahun 2030 yaitu produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari (bph) dan gas sebesar 12 miliar standar kaki kubik per hari.
“Untuk bisa mencapai 1 juta bph, diperlukan tambahan produksi dari lapangan-lapangan migas skala besar yang umumnya dihasilkan dari investasi skala besar yang dilakukan oleh major international oil companies (IOCs),” ujar Pri Agung (9/12)
Menurut Pri Agung, akan sulit untuk memenuhi target 1 juta bph tersebut apabila belum ada kejelasan detail program kerja. Detail yang dimaksud mencakup lapangan mana saja yang akan memenuhi target produksi tersebut, berapa produksinya, kapan waktunya, siapa yang akan melakukan.
PNW








































