Direktur Program Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) Berly Martawardaya menjelaskan saat ini uang bukan lagi hal yang paling utama. Sehingga Indonesia harus meningkatkan inovasi agar jangan sampai tetap terjebak middle income trap.
Berdasarkan hasil penelitian INDEF, Jepang, Korea Selatan dan Malaysia mengalami pertumbuhan gross domestic product (GDP) perkapitanya terus meningkat hingga 15 ribu ke atas. Sedangkan Thailand, China, Indonesia, Philipina, India, dan Vietnam hanya sedikit mengalami peningkatan dan berada di angka antara 10 ribu dan 15 ribu.
“Kita tidak miskin, makanya kita harus berupaya dengan segala cara. Tingkatkan inovasi karena kita terjebak di middle income trap. Jadi kita bukan lagi kuatir miskin tetapi kita khawatir stagnan,” kata Berly dalam peluncuran hasil penelitian INDEF dengan tema “Peran Investasi Sektor Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) Serta Paten Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia” di Jakarta, pada Selasa (8/5).
Berly menjelaskan faktor yang menjadi penentu pertumbuhan ekonomi saat ini bukan lagi seperti tanah, tenaga kerja, modal, atau lainnya. Sekarang, justru yang lebih intangible seperti kewirausahaan, produktivitas, dan inovasi. “Inovasi ini sangat penting, Korea tidak punya tambang tapi bisa maju sangat pesat, tidak bisa lepas dari inovasi mereka, sehingga Samsung itu tidak bisa lepas dari saingan dengan Apple perusahaan raksasa itu dari inovasi. Jadi sekarang kalau secara politis sudah ada sejak lama malah saling menghancurkan (creative destruction) ditambah dengan tekonlogi ini tentu tidak bisa lepas dari paten dari segi pencatatannya,” jelasnya.
Berly menuturkan kreativitas kita cukup bisa dibanggakan, meski inovasi Indonesia dalam Global Inovation Index masih ranking ke-87 dari 127 negara dan dalam Global Competitiveness Index Rank berada di urutan ke-36 dari 138 negara. Bahkan, faktor dari penilitian tersebut pun masih berasal dari tekstil, sepatu, sawit, dan tambang yang kenaikan harganya masih belum belum bisa meningkat secara signifikan. “Kalau elektronik setiap tahun dia bisa naik tinggi, harga bisa kompetitif dengan berbagai inovasi yang terus dihasilkan,” katanya.
Di tahun 2014, lanjut Berly, inovasi Indonesia masih sedikit dari teknologi. Meskipun di tahun tersebut lebih baik inovasinya dan berada di atas rata-rata. Sedangkan di 2017, inovasi Indonesia mengalami penurunan. “Malah sedikit dibawah rata-rata. Teknologi kita masih berada di market size saja. Jadi secara relatif kita semakin tertinggal, negara lain malah semakin ketat dan cepat, seperti Vietnam, Filipina, bahkan Myanmar sudah mulai banyak dapat pujian. Ini kita yang tadinya agak di atas, sekarang malah agak di bawah rata-rata sehingga jadi kurang menarik,” keluhnya.
Untuk itu, Berly berharap masyarakat dapat membantu pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui investasi dan paten dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Setidaknya, posisi Indonesia bisa menyusul dari negara ASEAN bahkan lebih dari itu.
PHB








































