Tips Praktis Berkarir sebagai Professional Lawyer

0
145
Tips Praktis Berkarir sebagai Professional Lawyer

Tips Praktis Berkarir sebagai Professional Lawyer

Menjaga kepercayaan (trust) klien sama pentingya dengan modal kecerdasan bagi seorang lawyer dan kejujuran merupakan kunci kesuksesan dalam membangun hubungan baik yang berkelanjutan dengan klien.

Dewasa ini, banyak terjadi fenomena klien meninggalkan lawyer-nya, tidak hanya klien-klien baru, bahkan ada klien sudah bekerjasama yang selama puluhan tahun pun juga melakukan hal tersebut. Bahkan mulai banyak kasus gugatan klien kepada mantan lawyer-nya. Penggantian lawyer merupakan hak setiap klien dan hal yang cukup wajar dilakukan, terlebih switching cost untuk melakuan hal tersebut rendah atau bahkan nol. Jika dicermati lebih jauh, fenomena tersebut umumnya berawal dari retaknya hubungan baik antara lawyer dengan klien. Ada yang keliru dan ada yang perlu diperbaiki.

Jumat (20/3) lalu, Andi Gunawan S.H., MBA founder sekaligus Managing Partner Andi Gunawan & Associates Law Firm  membagikan setidaknya ada dua tips mendasar untuk aspek non-teknis yang perlu dipahami oleh para calon profesional lawyer, khususnya di bidang hukum korporasi.

Pertama, Menjalin hubungan dengan klien berdasarkan kepercayaan (Trust)

“Dengan puluhan tahun pengalaman yang saya  miliki dan nasihat yang saya peroleh dari para senior, saya berkesimpulan bahwa dasar dari suatu hubungan yang baik antara konsultan dengan kliennya adalah trust (kepercayaan). Dan kepercayaan itu menjadi foundation dari semua dinamika dalam hubungan tersebut, baik dalam kondisi buruk maupun kondisi baik. Klien mempercayakan informasi rahasia terkait strategi bisnis, urusan keluarga, konflik bahkan rahasia pribadi sekalipun kepada lawyernya, hal itu hanya bisa dilakukan jika didasarkan pada kepercayaan bahwa lawyer akan menjaga informasi tersebut dan membantunya,” pungkas Andi.

Menurutnya, butuh waktu dan proses yang panjang untuk membangun kepercayaan antara klien-lawyernya, namun hanya butuh waktu yang sangat singkat untuk merusaknya. Kalau sudah hilang kepercayaan, sebagus apapun skill teknis lawyer-nya, hubungannya akan sulit untuk bertahan lama.

“Banyak kejadian-kejadian yang saya lihat di mana ada lawyer yang “membohongi” klien atau sebaliknya, klien yang “menjerumuskan” lawyernya. Banyak juga lawyer yang memanfaatkan kesempatan untuk mengambil keuntungan pribadi pada saat menangani klien, apakah dengan main “dua kaki”, memanfaatkan informasi rahasia atau  tidak menjaga kerahasiaan,” terangnya.

Kedua, Menjadi Lawyer yang Cerdas dan Jujur (Seimbang)

Menjadi seorang lawyer yang cerdas dan trampil dalam menangani kebutuhan klien merupakan faktor penting dalam kesuksesan berkarir. Namun perlu juga dipahami faktor kejujuran yang tidak kalah pentingnya dalam membina hubungan jangka panjang dengan klien. Andi mengilustrasikan kecerdasan dan kejujuran dengan menggunakan persamaan matematika.

“Ada namanya semesta lawyer cerdas dan ada semesta lawyer jujur. Ada orang cerdas ada orang jujur, di luar semesta itu ada kelompok-kelompok lain. Saya menyoroti yang cerdas dan yang jujur. Orang yang cerdas tapi kurang jujur itu banyak. Orang jujur tapi kurang cerdas itu tidak terlalu banyak. Yang jujur dan cerdas merupakan irisan dari dua semesta tersebut, dan itu lebih sedikit lagi” tukasnya.

Menurutnya, orang jujur dan cerdas itu sangat sedikit populasinya dan merupakan kelompok yang spesial. Banyak godaan bagi orang cerdas untuk itu menjadi tidak jujur, karena dengan kecerdasannya itu dia merasa bisa memanipulasi orang lain.

Berangkat dari hal itu, Andi menjelaskan diperlukan suatu pedoman/pegangan untuk membangun keseimbangan antara elemen kecerdasan dan kejujuran untuk membangun integritas profesi lawyer dalam diri seseorang.

“Pedoman atau pegangan secara normatifnya itu diatur dalam kode etik profesi. Tapi pegangan yang paling hakiki menurut saya adalah pedoman moral yang berlandaskan nilai-nilai religius, dimana nilai-nilai yang lebih luas menjadi panduan universal. Saya merasa kalau saya sudah berpanduan pada nilai-nilai moral tersebut, panduan-panduan normatif itu scope-nya menjadi lebih kecil. Karena saya muslim ajaran moral dalam islam lah yang menjadi panduan saya, meskipun dalam menjalani profesi saya merasa masih jauh dari panduan yang saya jadikan tolok ukur tersebut” ucapnya.

Andi menambahkan kejujuran itu dia membangun tidak hanya dengan klien tapi juga dengan karyawannya, dengan mitra bisnis lainnya. Jujur tidak sama dengan naif, ini butuh pengalaman hidup untuk bisa memahami makna ini. Andi memberikan contoh, dalam praktek yang paling sering terjadi terkait isu konflik kepentingan.

“Misalnya, ada seorang calon klien A datang ke saya meminta bantuan karena dia akan bertransaksi. Ternyata pihak lawannya si X adalah klien saya, yang sudah lama tidak memberikan pekerjaan ke saya dan tidak juga meminta saya untuk mewakilinya. Untuk menentukan apakah permintaan A bisa saya penuhi atau tidak, saya harus melakukan conflict clearance dulu dengan X, kalau memang boleh akan saya lanjutkan, kalau tidak boleh tentu ada reasoning-nya dari X. Terhadap A saya tidak tanya-tanya dulu detil informasi rencana transaksinya, kalau memang A cerita saya akan jaga kerahasiaan itu meskipun pada akhirnya tidak jadi menggunakan jasa saya, karena bisa jadi itu sensitif buat bisnisnya dia,” ucapnya.

Sebagai penutup Andi mengatakan, bahwa klien perlu diberitahukan tentang apa yang perlu dia ketahui terkait rencana yang akan dia lakukan, dan informasi yang kurang relevan tidak perlu diinformasikan. Apalagi kalau tidak ditanyakan dan/atau memang tidak relevan dengan pekerjaan yang akan ditangani.

SF

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*