BI Nilai Virtual Currency Merupakan Titik Awal Revolusi Digital

Ada upaya ingin menghilangkan lembaga perantara, seperti bank.

Ilustrasi. Sumber Foto: https://pixabay.com/

Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI), Erwin Haryono menuturkan bahwa virtual currency (uang digital) merupakan titik awal revolusi digital.

Erwin mengatakan bahwa kemunculan virtual currency berkaitan erat dengan keberadaan internet. Ia menjelaskan pada awal internet ditemukan, Amerika Serikat sempat menolak kehadiran internet ini. Sebab, ketakutan terhadap keterbukaan informasi dan kemudahan tukar-menukar informasi dan data akan menghancurkan society. (Baca Juga: Mengenal Evolusi Sistem Pembayaran di Indonesia).

“Nah, tetapi kalau kita lihat internet itu akan pertukaran informasi dan data dengan waktu yang sangat cepat. Sekarang bayangkan virtual currency ini, mereka akan mempunyai internet tapi untuk values sehingga bisa disebut sebagai internet of values,” ujar Erwin dalam Seminar Hukum Dan Teknologi Finansial, Universitas Indonesia, Depok, Senin (23/4).

Hal ini tidak bisa dibayangkan apabila siklus perputaran dana secepat internet. Sebab, para teknolog berkeinginan untuk mengubah laju perbaikan industri finansial. “Ini memang cita-cita para teknolog. Yang mana mereka itu enggak suka pada financial, kepada orang -orang keuangan terutama yang di wall street dianggap industri yang korup,” ujarnya. (Baca Juga: Akademisi Sarankan Keamanan Fintech Harus Diperketat).

Menurut Erwin, industri finansial itu memiliki keuntungan yang luar biasa di mana CEO-nya mempunyai bonus yang bukan lagi jutaan tetapi mencapai miliaran dollar. Ini juga berkaitan erat dengan sempat jatuhnya industri finansial pada 2008. Hal tersebut mendorong para teknolog untuk berpikir terdapat kesalahan dalam industri finansial ini.

Erwin menjelaskan para teknolog kemudian menciptakan sebuah teknologi revolusioner yang dicita-citakan menghapuskan semua Lembaga perantara. “Jadi ini sesuatu yang memang besar,” ujarnya. (Baca Juga: Mengenal Regulasi yang Mengatur Fintech di Indonesia).

“Misalkan begini, kenapa bank? biasanya orang yang ingin punya usaha, kemudian ingin mencari dana melalui orang lain. Nah itu tidak mungkin orang dengan mudah mempercayakan uangnya meminjamkan kepada orang tersebut karena belum kenal kan. Disebut sebagai Lembaga perantara atau bank,” Kata Erwin.

Oleh karena itu, akhirnya teknolog menciptakan sebuah inovasi teknologi yang memiliki dampak terhadap beberapa industri yang bernilai komersial dan ramah lingkungan bagi masyarakat sekitar. (Baca Juga: Milenal Kelas Menengah Menjadi Target Pasar Fintech Terbesar).

(PHB)

Dipromosikan