Fintech Summit 2020: Jadikan Sharia Fintech Lebih dari Sekadar Online Loan-Sharking

0
85
Fintech Summit 2020 Jadikan Sharia Fintech Lebih dari Sekadar Online Loan-Sharking

Fintech Summit 2020: Jadikan Sharia Fintech Lebih dari Sekadar Online Loan-Sharking

Sharia fintech sebagai salah satu produk perbankan yang menjanjikan perlu menyingkirkan diri dari imej fintech yang dikaitkan dengan online loansharking (lintah darat online).

Sebagai upaya mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia, Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Asosiasi Fintech (AFTECH) menyelenggarakan Indonesia Fintech Summit 2020. Indonesia Fintech Summit membuka acara Pekan Fintech Nasional 2020 yang diselenggarakan pada 11-25 November 2020 yang akan membahas mengenai strategi dan potensi kolaborasi untuk mempercepat pemulihan ekonomi melalui digitalisasi jasa keuangan.

Salah satu tema besar yang diangkat dalam Fintech Summit 2020 merupakan Sharia Fintech. Sesi ini pada Kamis (12/11) menghadirkan beberapa pembicara, seperti Mohammad Obaidullah (Lead Research Economist, Islamic Development Bank), Mustafa Adil (Head of Islamic Finance, Refinitiv), Umar Munshi (Managing Director & Co-Founder, Ethis), dan Matthew Martin (CEO Blossom Finance) yang dipandu oleh moderator Jamil Abbas (Direktur Deputi Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan). Keempat pembicara ini menekankan pentingnya penggunaan sharia fintech dalam penyediaan jasa keuangan secara digital.

Meskipun perkembangan sharia fintech menunjukkan prospek yang menjanjikan, Obaidullah menganggap bahwa islamic fintech sendiri masih kurang pamor dan membutuhkan banyak perkembangan. Hal ini dikarenakan penggunaan precautionary approach (pendekatan kehati-hatian) oleh lembaga perbankan syariah agar tetap melekat pada prinsip dasar syariah.

“Walaupun perkembangan sharia fintech masih tergolong lambat, sharia fintech masih dapat berkembang selama ia tetap sesuai dengan prinsip-prinsip syariah,” ujar Obaidullah.

Sementara itu, Mustafa menjelaskan bahwa 2019 merupakan tahun terkuat bagi perkembangan sharia fintech. Sharia fintech menyumbang 14 persen atau  sekitar US$2,2 triliun kepada ekonomi internasional, melebihi persentase perbankan konvensional. Tingginya angka ini disebabkan penggunaan sukuk oleh pemerintah dalam rangka menyediakan program pemulihan ekonomi nasional. Mustafa berharap bahwa perkembangan sharia fintech dan islamic fintech secara keseluruhan dapat digunakan untuk menangani isu-isu kesetaraan yang kian membawa pengaruh positif bagi kehidupan manusia.

“Hal ini dapat dilihat dengan perkembangan peer-to-peer (P2P) lending platforms. Crowdfunding perbankan syariah jadi jembatan antara stakeholders untuk berkontribusi dalam tujuan yang positif dengan menyediakan dana kepada orang yang membutuhkan,” jelasnya.

Menanggapi pernyataan Mustafa, Matthew mengutarakan bahwa ketenaran sharia finance pada 2018 justru disebabkan oleh alasan-alasan yang buruk. Terlebih, masyarakat menggunakan inovasi digital untuk melakukan praktek ekonomi hitam (black economy) yang menghindari ketentuan perundang-undangan dan perpajakan. Matthew juga mengamati bahwa persepsi Indonesia terhadap fintech itu tidak lebih dari online loansharking. Oleh karena itu, ia berpesan bahwa sharia fintech harus berkembang lebih dari sekadar online loansharking.

“Mengingat fintech itu cenderung berkaitan dengan online loansharking, sharia fintech di Indonesia perlu menyingkirkan imej tersebut dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.” ujarnya.

Matthew juga menekankan keunggulan operasional (operational excellence) dalam pengembangan produk sharia fintech. Dengan demikian, sharia fintech dapat menjadi superior dibandingkan dengan produk fintech konvensional lainnya.

Umar menyetujui pendapat ini, namun dengan pandangan yang lebih positif. Menurutnya, sharia fintech atau islamic fintech tidak perlu takut untuk bersaing dengan perbankan konvensional mengingat sharia fintech masih akan tetap memiliki penggemarnya. Seperti contoh, negara-negara dengan populasi Muslim yang dominan menggandrungi sharia finance, meski tetap dalam jumlah yang tidak banyak.

Dalam meningkatkan penggunaan sharia fintech, Umar menekankan adanya kesadaran sosial. Sharia fintech tidak dapat bertahan dalam persaingan pasar apabila ia menjual dirinya dengan sekadar embel-embel perbankan syariah.

Sharia fintech perlu menyediakan jasa yang dapat menandingi ekspektasi dan minat masyarakat. Akan tetapi, kunci utama dalam penyelenggaraan sharia fintech adalah social awareness. Penting bagi lembaga-lembaga penyedia sharia fintech untuk tetap menjalankan prinsip-prinsip syariah agar ia dapat memenuhi tujuan sosialnya,” tuturnya.

 

KS

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*