Para Online Shopper Siap-siap, Barang Impor Di Atas Rp 42 Ribu Kena Tarif Bea Masuk

0
54

Ketentuan penyesuaian nilai pembebasan untuk pembelian barang secara online berlaku 30 hari sejak ditandatangani

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melakukan penyesuaian nilai pembebasan (de minimis) untuk barang kiriman yang dibeli secara online dari yang sebelumnya US$ 75 menjadi US$ 3 per kiriman (consignment note/CN) untuk bea masuk. Jika dikonversi, batas ini menjadi Rp 42.000 per kiriman dengan asumsi nilai tukar Rp 14.000 per dolar Amerika Serikat.

Heru Pambudi, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menjelaskan salah satu alasan kenaikan barang impor melalui e-commerce adalah karena banyaknya orang yang melaporkan atau mendeklarasikan CN di bawah US$ 75, padahal nilai barang lebih dari itu.

“Dari keseluruhan importasi barang-barang kiriman yang menggunakan CN, mayoritas yang dilaporkan pada Bea Cukai nilainya di bawah US$ 75. Jumlah dokumen yang di bawah US$ 75 porsinya 98,65%. Yang dideklarasikan dengan dokumen CN nilainya antara 1-1.500, tetapi 98%nya didominasi oleh pemberitahuan yang harganya dibawah US$ 75,” jelas Heru saat konferensi pers terkait Ketentuan Impor Barang Kiriman (e-commerce), di ruang pers Kemenkeu, Jakarta, Senin (23/12).

Heru juga mengatakan saat ini threshold barang kiriman di bawah US$ 75 diberikan bea masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor dengan tarif 7,5%, PPN 10% dan PPh. Untuk PPh sendiri jika yang bersangkutan memiliki NPWP maka dikenakan tarif 10%, jika tidak dapat menunjukkan NPWP, maka dikenakan tarif 20%. Jadi jika dihitung total, range-nya berada antara 27,5%-37% tergantung dapat menunjukkan NPWP atau tidak.

Adapun ketentuan tersebut tidak berlaku untuk tiga barang yakni (2.B) tas, sepatu dan produk tekstil seperti baju yang tarif PPN dan PPhnya mengikuti bea masuk tarif normal atau Most Favoured Nation (MFN).

“Bea masuk untuk ketiganya antara 15%-20% untuk tas, sepatu 25%-30%, tekstil 15-25%. Sedangkan PPNnya 10%, PPh 7,5-10% sehingga kalau ditotal menjadi lebih tinggi,” kata Heru.

Pengenaan bea masuk tersebut dimaksudkan untuk mendukung tumbuh-kembang Usaha Mikro, Kecil dan Menegah (UMKM) dan produk lokal Indonesia. Nantinya, Kementerian Keuangan akan bersinergi dengan platform marketplace yang menghubungkan sistem Bea Cukai, National Single Window (NSW), dan marketplace. Melalui sistem tersebut, pengguna dapat meliht data transaksi, baik jumlah, jenis maupun harga barangnya secara real time.

“Ini adalah transparansi untuk semua yang terlibat dalam bisnis e-commerce baik pengusaha maupun pemerintah. Saat ini Kemenkeu sudah melakukan piloting dengan Lazada, Blibli, dan Bukalapak,” jelas Heru. Ditegaskan pula oleh Dirjen Bea dan Cukai bahwa ketentuan mengenai penyesuaian nilai pembebasan (de minimis) atas barang kiriman dari e-commerce atau online berlaku 30 hari sejak ditandatangani.

 

ZNA

Dipromosikan

TINGGALKAN JAWABAN

Masukkan komentar Anda!
Mohon masukkan nama Anda di sini

*