Director of Government Affairs SEA, Qualcomm International, Inc, Nies Purwati menilai penelitian yang dilakukan oleh Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) terdapat banyak sekali kesempatan Indonesia yang bisa dimanfaatkan dari bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT).
“Kami senang sekali INDEF melakukan penelitian ini karena kami melihat banyak sekali kesempatan Indonesia untuk kedepannya dalam ICT,” katanya dalam peluncuran hasil penelitian INDEF dengan tema “Peran Investasi Sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta Paten Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia” di Jakarta, pada Selasa (8/5).
Nies mengungkapkan sebelum adanya penelitian ini, tidak ada data yang menunjukkan pentingnya paten terhadap perekonomian di Indonesia. “Sehingga itu bisa menjadikan mungkin orang-orang belum melihat kenapa kita perlu bekerja ke arah sana sebab paten itu sangat penting. Dari penelitian INDEF ini kita bisa melihat jelas ada korelasi antara paten dan pertumbuhan ekonomi terutama di ICT,” ujarnya.
Padahal, lanjut Nies, dengan mengetahui dampak paten terhadap ekonomi, dapat mendorong budaya inovasi yang lebih baik sehingga lebih banyak paten yang dapat dihasilkan oleh Indonesia. “Dengan ini kita dapat melihat manfaat pentingnya paten,” katanya.
Terkait penelitian ini, Nies menyampaikan bahwa Indonesia perlu menumbuhkan kultur inovasi, penelitian dan pengembangan yang akhirnya akan banyak paten yang dihasilkan. “Nah, berharapnya juga dari paten resident, meskipun INDEF memberikan kesimpulan bahwa paten resident tidak dapat memberikan significant economic value,”jelasnya.
Meskipun begitu, ia mengakui hal tersebut mungkin awalnya dikarenakan Indonesia belum menggalakkan upaya-upaya inovasi di dalam negeri sehingga belum ada hasil yang signifikan. Menurutnya, harus ada kerjasama antar kementerian dan lembaga terkait seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Informasi dan Komunikasi dan lainnya.
Terkait hadirnya kebijakan industri 4.0, kata Nies, ini merupakan kesempatan yang bagus karena sebetulnya dasar dari kebijakan tersebut adalah industri TIK. “Semua itu bisa dimungkinkan kalau industri tekstil, makanan dan minuman, baja, kimia, itu bisa mengadopsi teknologi TIK untuk mereka berevolusi pada making industry 4.0 itu. Itu kesempatan yang bagus sekali untuk entrepreneur atau start-up untuk membuat atau memfasilitasi making industry 4.0 kedepannya,” jelasnya.
Oleh karena itu, Nies berharap kepada Kementerian Perindustrian untuk membangun pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan hasil dari penelitian ini dapat mendorong atas pelaksanaan program kebijakan industry 4.0. “Maka mungkin ini bisa dimasukan data-datanya hasil riset ini ke dalam target itu,” tukasnya.
PHB








































